Rabu, 17 Juli 2013

Industri Mesin di Surabaya



INDUSTRI MESIN SURABAYA: FUNGSI DAN PERAN DALAM INDUSTRIALISASI DAN PEMBANGUNAN KOTA ABAD XIX DAN AWAL ABAD XX
  PENGANTAR
Kota merupakan wadah dari berbagai aspek kehidupan yang sangat kompleks, Salah satu pendapat tentang kota menurut J.H De Goode menentukan beberapa ciri kawasan yang disebut kota, diantaranya adalah mempunyai peranan besar yang dipegang oleh sektor sekunder (Industri) dan tersier (Jasa) dalam kehidupan ekonomi, Jumlah penduduk yang relatif besar dan Heterogen, serta kepadatan penduduk yang relatif besar. Surabaya yang merupakan salah satu kota besar yang tidak bisa terlepas dari ciri yang disebutkan oleh De Goode. Surabaya sebagai Kota juga diperkuat oleh pendapat dari Mc Gee yang menyatakan bahwa terdapat tiga ciri kota kolonial yaitu pemukiman sudah stabil, terdapat Garnisun, dan pemukiman pedagang, yang paling penting adalah lokasinya dekat dengan laut atau sungai yang memudahkan pendatang Eropa untuk mengekspor produk dari daerah yang bersangkutan serta mengekspor produk dari Eropa. Kondisi kota inilah yang berpengaruh terhadap proses industrialisasi di Kota Surabaya. Industri itu sendiri mengandung makna sebagai fasilitator yang mengolah bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang mempunyai nilai guna lebih tinggi.
Sejak akhir abad ke 19 hingga awal abad ke-20 perkembangan industri meningkat tajam yang disebabkan oleh pertanian perkebunan yang memberlakukan sistem tanam paksa. Berdirinya industri dengan menggunakan mesin sebagai tenaga produksi ini menjadikan proses transfer teknologi sangat penting dalam proses industrialisasi di Jawa, sehingga awal abad ke-20 kota kota besar di Jawa menjalankan fungsinya sebagai pusat administratif dan komersial. Industrialisasi yang semakin meningkat ini menyerap banyak tenaga kerja khususnya yang paling banyak di industri mekanik. Kondisi ini juga dapat menimbulkan urbanisasi, sehingga surabaya saat itu juga menjadi kota dengan penduduk terpadat.
 ISI SINGKAT
Peningkatan industri sejak abad ke 19 hingga awal abad ke-20 perkembangannya di Kota Surabaya meningkat tajam. Jika pada tahun 1899 jumlah industri manufaktur hanya berjumlah 113 buah maka pada tahun 1914 meningkat menjadi 440 buah. Industri manufaktur di Kota Surabaya melonjak hingga 300% (Purnawan Basundoro: 2012). Kegiatan bisnis, Industri, pemerintahan dan pemukiman eropa terpusat di sekitar Jembatan merah. Gudang Senjata, toko mesin uap kapal, pabrik roti, pabrik air mineral, dan beberapa pabrik lain berada di pusat kota. Kawasan tersebut kemudian mengarah ke selatan setelah pemerintah Gemeente membeli lahan di Daerah Ngagel sehinggga banyak industri yang berpindah ke kawasan Ngagel.
Pemberlakuan Cultur stelsel telah melahirkan Perkembangan sektor agraria yang dimulai sejak tahun 1830 telah mendorong kemunculan pabrik pabrik di daerah Kerasidenan Surabaya yang meliputi Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang yang banyak dimiliki oleh orang Eropa dan Cina. Kondisi tahun 1780 sebelum diberlakukannya Cultur stelsel, pengolahan tebu menggunakan tenaga kerbau dimana didekat penggilingannya yang berputar hari dengan hewan penarik yang diganti tiap setengah jam yang harus dipanasi terus menerus untuk memasak hasil perasan tebu sehingga setelah beberapa lama berubah menjadi gula kental berwarna kecoklatan dan siap dicetak menggunakan tempurung kelapa. Kondisi ini berubah pasca diberlakukannya sistem tanam paksa, pemerintah mulai mengimport peralatan mesin untuk penggilingan tebu dengan menggunakan tenaga uap pada beberapa pabrik eropa. Modernisai ini menyebabkan pabrik pabrik yang menggunakan tenaga hewan dan tenaga air mulai terpinggirkan. Penggunaan ketel uap terus meningkat dan mencapai puncaknya pada akhir abad ke 19 mencapai 1.350 unit. Ketel uap, vacuum pans, Centrifuge dan mesin uap banyak diimpor dari inggrisnamun pemeliharaan dan perbaikannya dilakukan secara lokal, pemeliharaan inilah yang nantinya juga akan mendorong lahirnya perusahaan teknik swasta oleh F. J. H Baijer.
Industri berat mulai dirintis sejak awal abad ke 19 dengan dibangunnya industri logam “Constructie Winkle” yang merupakan perusahaan pemerintah yang merintis kemunculan industri mesin swasta di Surabaya. Pada tahun 1808 untuk keperluan pertahanan. Kemudian dalam perkembangannya ini terbagi menjadi dua yaitu bengkel artileri (senjata dan meriam) dan perbengkelan mesin uap. Sedangakan perusahaan mesin swasta yang pertama kali di Surabaya didirikan oleh F. J. Hbaijer pada tahun 1841 yang bernama “Stoomfabriek van F. J. H Baijer” yang bermanfaat bagi reparasi pabrik gula. Tahun 1844 pabrik ini kesulitan biaya dan digadaikan ke pemerintah kemudian diberi nama Artileri Constructif Winkle.kemunculan ini kemudian disusul oleh beberapa perusahaan seperti pabrik besi dan logam “de Volharding”, perusahaan galangan kapal (Curtis, Dormaar, Kramer, Essink, de Hoog, Zunthuys). Untuk memenuhi kebutuhan reparasi mesin pabrik gula juga didirikan perusahaan N. V Machinefabriek pada tahun 1858. Menjelang tahun 1863 bengkel reparasi tidak bisa lagi mengatasi mesin mesin yang rusak sehingga melahirkan pabrik pabrik mesin seperti N. V Fabriek van stoom en werktuigen Kalimas tahun 1875, Lingerwood Manufacturing Co Ltd tahun 1877, N. V soerabasjhe Machine Handel voorhen Becker Co tahun 1883. Sehingga awal abad ke 20 kebutuhan akan mesin semakin meningkat yang kemudian mendorong lahirnya pabrik permesinan yang lebih besar.
Perkembangan industri yang pesat ini juga telah mendorong penyebaran bangunan baja bagi konstruksi pembukaan jalur kereta api yang ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah no 141 tahun 1875. Pembukaan jalur ini dilakukan dikawasan timur jurusan Ssurabaya-Pasuruan tahun 1878. Penggunaan baja untuk konstruksi mesin kereta api, rel, stasiun, lokomotif, gerbong dll ini kemudian diikuti pembukaan jalur trem di Surabya tahun 1891 oleh Oast Java Stroomtram Maatschappij (OJS).
Relokasi kawasan Industri di Kawasan Ngagel oleh pemerintah Gemeente tahun 1916 dirintis oleh pabrik mesin N. V Machinefabriek Braat yang mulai dibangun sejak tahun 1920, kemudian disusl oleh N. V Construktiewerkplaats Noordick, serta 3 pabrik mesin lainnya yang berada di kawasan Ngagel.
Artikel ini menjelaskan kondisi industri yang kronologis sejak akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Mulai dari perkembangan industri gula yang dilakukan secara tradisional, mulai menggunakan mesin impor hingga pada puncaknya berdiri beberapa industri mesin di Kota Surabaya. Kemunculan industri yang semakin pesat kemudian menjadi perhatian pemerintah dengan dilakukannya relokasi di Kawasan Ngagel.
KESIMPULAN
            Awal perkembangan Industrialisasi di Surabaya mulanya merupakan Supporting Sistem yang mendukung sektor agraria, Agraria semakin pesat mendorog lahirnya mekanisasi sebagai alat untuk mengolah tebu. Hal inilah yang mendorong lahirnya industri mesin  di Surabaya yang ditandai dengan berdirinya beberapa perusahaan mesin di Sekitar Jembatan Merah yang kemudian mengalami relokasi pada tahun 1916 ke Ngagel. Pesatnya industri baja dan mesin ini mendorong timbulnya transportasi khusunya kereta Api dan Trem yang sampai saat ini masih bisa dinikmati keberadaannya.

Rabu, 26 Juni 2013

Perkembangan Ahmadiyah



DINAMIKA PERKEMBANGAN PAHAM AHMADIYAH QODIANIYAH
Ahmadiyah adalah suatu aliran yang meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, mereka meyakini Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi mereka. Selain itu mereka juga mempunyai kitab suci yang dikenal dengan nama Tadzkirah sebagaimana umat islam mempunyai Al-Qur’an
1.      Apa itu Ahmadiyah?
                 Menurut pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, Misi Ahmadiyah adalah untuk menghidupkan islam dan menegakkan Syariah islam. Tujuan didirikan jemaat Ahmadiyah menurut pendirinya adalah untuk meremajakan moral islam dan nilai-nilai spiritual. Ahmadiyah bukanlah sebuah agama baru namun bagian dari islam. Para pengikut ahmadiyah mengamalkan rukun iman dan rukun islam. Gerakan Ahmadiyah menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian diantara para pengikut agama yang berbed, serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apapun untuk alasan apapun. Jemaat muslim Ahmadiyah adalah suatu Organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia.pergerakan jemaat Ahmadiyah dalam islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasionalyang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa.
2.      Sejarah Penyebaran di Indonesia
Tiga pemuda dari Sumatera Tawalib yakni suatu pesantren di Sumatera barat meninggalkan negerinya untuk menuntut ilmu. Mereka adalah Abu Bakar ayyub, Ahmad Nuruddin dan Zainal Dahlan. Awalnya mereka akan berangkat ke Mesir untuk menuntut ilmu di Kairo yang saat itu terkenal sebagai pusat studi islam. Namun guru mereka menyarankan agar pergi ke India karena negara tersebut mulai menjadi pusat pemikiran Modernsasi islam. Ketika sampai di Lahore, mereka bertemu dengan ajaran Anjuman Isyati Islam (Ahmadiyah). Setelah berada disana mereka ingin melihat sumber dan pusat Ahmadiyah yang ada di Desa Qadian. Dan setelah mendapatkan penjelasan mereka segera di Bai’at oleh Hadrat Masih II, dan ketiga pemuda itu memutuskan untuk belajar di madrasah Ahmadiyah yang kini disebut Jamiah Ahmadiyah. Merasa puas dengan pengajaran disana, kemudian mereka mengundang rekan-rekan pelajar di Sumatera untuk bergabung dengan ketiga pemuda tersebut. Dua tahun setelah peristiwa itu para pelajar menginginkan agar Hadhrat Masih II untuk berkunjung ke Indonesia. Untuk datang ke Indonesia kemudian Hadrat Masih II mengirimkan wakilnya yakni Maulana Rahmat Ali HAOD yang dikirim sebagai Mubaligh pada tanggal 17 Agustus 1925 dan sampai di Tapaktuan Aceh pada tanggal 2 Oktober 1925. Kemudian berangkat menuju Padang (Sumatera Barat). Kemudian kaum intelek dan orang-orang biasa menggabungkan dirindengan Ahmadiyah. Tahun 1926, jemaah Ahmadiyah resmi berdiri sebagai organisasi. Maulana Rakhmat Ali HAOD berangkat ke Jakarta, perkembangan Ahmadiyah semakin pesat hingga dibentuklah pengurus besar (PB) jemaat Ahmadiyah dengan R. Muhyiddin sebagai ketuanya. Perjuangan Jemaah Ahmadiyah juga terlibat dalam meraih kemerdekaan, banyak para Ahmadi Indonesia yang wafat dibunuh Tentara Belanda pada tahun 1946. Salah satunya adalah R.Muhyiddin yang merupakan tokoh penting dalam perjuangan indonesia merdeka. Ditahun limapuluhan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mendapatkan legalitas menjadi satu organisasi keormasan di Indonesia dengan dikeluarkannya Badan Hukum oleh Menteri Kehakiman RI No.JA.5/23/13 tertanggal 13-3-1953. Ahmadiyah juga pernah berpolitik, yang kemudian membawa kejatuhan Presiden pertama RI. Namun di era tahun 1970-an, melaui Rabithah Alam al islam menjadi-jadi di awal 19701an, Rabithah Alam al Islam menyatakan Ahmadiyah sebagai non muslim pada tahun 1974, hingga MUI memberikan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah. Periode 90 an menjadi periode pesat perkembangan Ahmadiyah bersamaan diluncurkannya Moslem Television Ahmadiyah (MTA).

3.      Kontroversi Ajaran Ahmadiah
menurut ajaran islam, Ahmadiyah dianggap melenceng dari ajaran islam sebenarnya karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Isa Al Masih dan Imam Mahdi, hal yang bertentangan dengan pandangan umumnya kaum muslimin yang mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Perbedaan Ahmadiyah dengan islam pada umunya juga pada penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Ahmadiah sering dikaitkan dengan kitab Tazkirah yang sebenarnya bukan kitab suci bagi ahmadia, namun hanya merupakan satu buku yang berisi kumpulan pengalaman rohani pendiri jemaat Ahmadiah, layaknya Diary. Adapula yang menyebut bahwa kota suci Jemaat Ahmadiah adalah qadian dan Rabwah. Adanya kota suci Jemaah Ahmadiah adalah sama dengan kota suci umat islam lainnya, yakni Mekkah dan Madinah.

4.      Aqidah Ahmadiah Qodianiyah
diantara paham yang dibangun untuk menghancurkan islam bangunan dan kekuatan islam adalah faham Ahmadiah Qodianiyah. Paham yang didirikan untuk menghancurkan islam dengan cara sembunyi-sembunyi dan tidak frontal, karena dimana kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa semua pihak atau kelompok manusi manapun yang ingin menyerang atau bahkan memusnahkan islam dimuka bumi ini dengan cara berhadapan langsung, mereka tidak dapat mengalahkan islam. Karena jika islam dilawan secara ternag-terangan kekuatan mereka semakin kuat. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Quraisy Mekah yang berusaha menhadang islam, menjatuhkan wibawanya, mengurangi pengikutnya dan menurunkan nama besar islam selalu gagal dengan berbagai cara baik dengan peperangan , adu argumentasi, diskusi ilmiah, dengan menjanjikan kekayaan duniawi atau memberikan ancaman semua cara telah ditempuh namun kekuatan islam tetap eksis dan islam berkembang semakin pesat.
Pengalaman panjang dam pahit ini membuat mereka terinspirasi untuk meubah metode mereka yang keras dan frontal dalam melawan kaum muslimin. Akhirnya mereka memilih perlawanan terhadap umat islam dengan tekhnik penipuan dan pengelabuhan. Mereka kemudian mendirikan faham baru untuk mengelabuhi kaum muslimin dengan mengatasnamakan islam, sehingga sedikit demi sedikit mereka akan bisa mengikis pemikiran-pemikiran islam dari kaum muslimin dan akhirnya menghilangkan islam itu sendiri. Mereka mendirikan Ahmadiah Qodianiah yang kemudian menyebarkan pemikiran-pemikiran aneh yangtidak dikenal oleh kaum muslimin.
Ahmadiah Qidianiah Memiliki Keyakinan sebagai berikut:
Ø  Ahmadiah mempunyai Tuhan yang memiliki sifat-sifat seperti manusia
Ø  Bahwa Nabi dan Rasul Tetap ada hingga hari kiamat
Ø  Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul Allah
Ø  Nabi Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi terbaik dari semua Nabi dan Rasul
Ø  Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu dari Allah
Ø  Mereka memiliki kitab suci tersendiri
Ø  Kota Qodian adalah seperti kota Mekkah al-Mukaromah dan Kota Madinah
Ø  Ibadah haji mereka adalah kehadiran dalam muktamar tahunan di kota Qodian

Struktur Kota Tradisional



  KOTA TRADISIONAL YOGYAKARTA
LINGKUNGAN KERATON NGAYOGYAKARTA

1.      Sejarah Awal Berdirinya Kota Tradisional Yogyakarta
Zaman dahulu, masyarakat Jawa khususnya masyarakat desa menyebut kota dengan istilah dalam bahasa jawa dengan sebutan nagari yang artinya kota atau keraton, karena pada awalnya kota diidentikkan dengan keraton. Dalam bahasa Sangsekerta kota dapat diartikan sebagai benteng atau pertahanan. Dalam bahasa melayu, kota diartikan sebagai benteng yang dipertahankan atas desa sebagai satu kesatuan politik,sehingga ciri-ciri kota yang menonjol adalah peran politiknya.[1] salah satukonsep tentang kota yang tercermin dipulau jawa yang terkenal dengan konsep kota tradisional yang merupakan konsep lokal dalam perkembangan kota di Indonesia. Kota tradisional adalah kota yang merupakan pusat kekuasaan tradisional, pengelolaan kota masih berada di bawah penguasa bumiputera dan belum ada campur tangan dengan bangsa asing. Konsep kota tradisional dalam konteks sejarah kota di barat yang sejajar dengan konsep kota pra-industrial yaitu kota yang belum bersentuhan dengan industrialisasi. Ada kebiasaan pada zaman raja-raja, penduduk kota dan desa memberikan upeti kepada raja. Semakin banyak upeti semakin kuat financial kerajaan dan semakin banyak prasarana dibangun, demikian pula prajurit atau angkatan perangnya semakin kuat.
Salah satu ciri yang paling menonjol dikawasan kota tradisional, terutama Jawa adalah keberadaan keraton, Alun-alun, masjid, pasar dan tembok atau pagar keliling (benteng).dalam tatanan budaya, kota tradisional ditandai antara lain penggunaan teknologi yang masih sederhana, penggunaan teknologi ilmu pengetahuan yang terbatas, serta penggunaan sistem produksi yang masih didominasi oleh tenaga manusia dan tenaga hewan. Penggunaan ilmu pengetahuan yang terbatas ini menyebabkan proses pembangunan kota-kota tradisional memunculkan pemikiran-pemikiran yang tidak rasional dan tidak bisa diterima dengan alam pikir saat ini tentang alasan dibangunnya kota tersebut. Salah satu kota tradisional di Jawa yang dalam proses pendiriannya masih berbau mitos adalah proses pendirian kota Yogyakarta oleh pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwono I yang tidak jauh dari mitos dan hal ramal meramal. Yogyakarta sebenarnya sudah dikenal sebelum kota Yogyakarta didirikan dan dijadikan tempat berdirinya keraton. Wilayah ini dikenal dalam babad Giyanti yang mengisahkan bahwa Sunan Amangkurat telah mendirikan Dalem diwilayah itu, yang bernama Gerjiwati oleh Pakubuwono II yang kemudian dinamakan Ayodya. Menurut cerita nenek moyang seorang kyai bernama Manganjaya memiliki sebuah buku pedoman ramalan. Dari ramalan tersebut dia menyimpulkan bahwa tempat dalam hutan beringin akan menjadi kota. Sejak saat itu dia mengumpulkan batu-batu bagi istana yang akan  dibangun sebagai tanda bukti kepada raja. Namun terlepas dari ramalan tersebut kota Jogjakarta dibangun oleh mangku bumi diatas hutan beringan. Setelah perjanjian gianti ditanda tangani pada tanggal 13 februari 1755 yang menandai pembagian matara menjadi dua yaitu Yogjakarta dan surakarta yang kemudian dikawasan yogyakarta digunakan untuk membangun istana Raja serta rumah-rumah pejabat kerajaan yang kemudian dikenal dengan nama Ngayogyakarta hadinigrat dan terkenal dengan sebutan keraton Yogyakarta.
Sejak didirikan pada tahun 1756 kota Yogyakarta mengalami perkembangan. Kota ini telah menjadi tempat bergabai golongan masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya kota Yogyakarta dipengaruhi oleh situasi kolonial, bermula dari sebuah jalan raya maka berdirilah kantor-kantor pemerintahan asing dan benteng. Kemudian muncul pemukiman Eropa club-club dan lapangan pacuan kuda. Daerah sekitar kota menjadi usah orang Eropa dalam perkebunan, pertanian terutama industri tebu. Jalan kereta dan jembatan penghubunganya banyak didirikan. Para pengrajin bumi putera mendapat tempat dilingkunagn yang miskin, hal ini sejalan dengan pemerintahan asing yang merupakan bagian yang luas dalam kompleks politik, kolonial. Sehingga masa akhir abad ke-19 sampai awal abad ke 20  di Yogyakarta bertemu dua kekuatan besar yaitu kekuatan tradisional dan kolonial. Suatu proses yang menimbulkan pembaruan.[2]
2.      Struktur Kota Tradisional Yogyakarta
Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Jawa dengan tipologi kota tradisional, kota ini merupakan ibukota dari Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakanpecahan kerajaan Mataram akibat ditandanganinya Perjanjian Giyanti 1755. Pangeran Mangkubumi adalah tokoh yang berperan penting dalam pendirian kota Yogyakarta. Kota ini dibangun dengan diawali pembangunan benteng kraton dengan penhuni awal adalah Sultan (Raja/Pemimpin Kerajaan), para bangsawan yaitu para staff kerajaan dan abdi dalem yaitu para pegawai kerajaan yang menghuni kawasan dalam benteng. Adapun struktur yang terdapat di kota tradisional Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.      Benteng Keraton (Benteng Vreedeburg): Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengat lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta karena kantor residen letaknya berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg. Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilikan Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini adalah milik Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC pada periode 1788-1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda) dibawah Gubernur Van Den Burg sampai ke pemerintahan Gubernur Daendels. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasaan Gubernur Jenderal Raffles. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di bulan Maret 1942. Pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan persetujuan Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara dan pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangan, ini dibuka untuk umum pada tahun 1987.

2.      Di Luar benteng terdapat pasar tradisional Bringharjo yang letaknya berada disebelah Utara Benteng kompeni (Vreedeburg) dan satu kompleks dengan keraton. Pasar ini didrikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Nama pasar beringharjo ini diambil dari nama Hutan Beringin yang merupakan nama hutan cikal bakal berdirinya kota jogja. Adanya pasar ini merupakan simbol adanya aktivitas ekonomi dilingkungan keraton sebagai tempat distribusi barang dari desa ke kota serta sebagai tempat pemenuhan barang-barang kebutuhan sehari hari bagi masyarakat desa dan kota.

3.      Area Pertokoan: kawasan pertokoan ini terletak di jalan Jalan yang dikenal dengan jalan malioboro, disamping jalan tersebut juga terdapat pertokoan cina yang didirikan oleh pemerintah Belanda,sehingga belakang pertokoan tersebut juga berdiri kampung pecinan.
4.      Kawasan Keraton: Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. keberadaan keraton dalam strultur kota tradisional merupakan hal yang utama, keraton Yogyakarta yang menjadi salah satu icon Jawa merupakan pusat dari budaya jawa. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut.

5.      Alun-alun:  Salah satu ciri pusat kota maupun pusat pemerintahan, baik itu kerajaan maupun kabupaten ditandai dengan hamparan lapangan rumput yang cukup luas dan sepasang pohon beringin di tengahnya yang dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor kabupaten yang biasanya juga menjadi kediaman dinas bupati. Lapangan inilah yang dinamakan “Alun-alun”. Namun ada perbedaan antara alun-alun keraton dengan alun-alun kabupaten (kediaman Bupati)  Pada Keraton memiliki dua alun-alun, di depan dan di belakang istana. Sedangkan tempat tinggal resmi Bupati (Kabupaten) yang hanya mempunyai satu alun-alun di depan kabupaten.
Kota kerajaan Tradisional dan Yogyakarta mempunyai dua buah alun-alun, satu terletak di utara Keraton dan satu lagi terletak di selatan Keraton. Alun-alun Lor (utara) dikelilingi oleh bangunan di penjuru mata angin, yakni: Masjid Agung di sebelah Barat, bangunan keraton di sebelah Selatan, pasar di sebelah Utara. Hal yang menarik adalah keberadaan penjara pada sisi sebelah Timur. Konon letak penjara ini didasarkan pada pemikiran agar para terpidana segera menyadari kekeliruannya dan bertobat, karena dipenjara berseberangan dengan tempat ibadah.
Disisi lain alun-alun terdapat  jalan masuk terdapat di tengah-tengah membelah alun-alun. Kemudian pada sisi kanan dan kiri selalu ditanami pohon beringin yang berpagar, karena itu masyarakat (di Jawa) menyebutnya Ringin Kurung, dan biasanya dikeramatkan serta diberi nama Kyai Jayandaru (kemenangan) dan Kyai Dewandaru (keluhuran). Sedangkan sebagian masyarakat menyebutnya Ringin Kembar. Ringin Kembar mengandung makna atau pesan simbolik bahwa Raja atau Bupati bukan sekedar penguasa melainkan juga pengayom (pelindung) bagi rakyatnya.
Alun-alun Kidul (Selatan) Keraton biasanya menyatu berada di dalam benteng (tembok tinggi) sebagai salah satu sistem pertahanan tempo dulu, Pada Alun-alun Kidul biasanya diselenggarakan gladen, latihan perang bagi para prajurit kerajaan secara berkala. Pada saat tertentu gladen ini digelar menjadi tontonan masyarakat.
6.      Kampung kauman
Kauman adalah sebuah kampung yang terletak di KElurahan Ngupasan  yang terletak di kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. di selatan Malioboro dan di utara Kraton Nyayogyakarta. Sebelah utara kampung ini dibatasi Jalan K.H.A.Dahlan, sebelah selatan dibatasi Jalan Kauman, sebelah timur dengan batas Jalan Pekapalan dan Jalan Trikora, sementara di sebelah barat dibatasi Jalan Nyai Ahmad DAhlan  atau dulu dikenal dengan Jalan Gerjen.
Di kampung Kauman ini terletak MAsjid Gede yang terkenal. Lapangan masjid ini selalu digunakan untuk acara tahunan grebekan pada setiap penyelenggaraan Sekaten oleh pihak keraton  Yogyakarta. Dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem pametakan atau Penghulu kraton yaitu abdi dalem/pegawai kraton yang mengurusi bidang keagamaan Islam di lingkungan Kraton Ngayogyakarta hadiningrat
Kauman Yogyakarta dikenal sebagai basis dari organisasi Islam Muhammadiyah, karena di kampung inilah Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan. Selain K.H.Ahmad Dahlan, tokoh lain yang berasal dari kampung Kauman adalah Ki BAgus HAdikusuma. Konon, karena fanatisnya pada setiap penyelenggaraan pemilu PArtai Amanat NAsional selalu menang besar di sini.  Selain itu tempat ini juga merupakan Komunitas terbesar bagi keturunan Arab di DAerah IStimewa Yogyakarta.
 
7.      Masjid Agung
Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah bangunan masjid yang didirikan di pusat (ibukota) kerajaan. Bangunan ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Perencanaan ruang kota Yogyakarta konon didasarkan pada konsep taqwa. Oleh karenanya, komposisi ruang luarnya dibentuk dengan batas-batas berupa penempatan lima masjid kasultanan di empat buah mata angin dengan Masjid Agung sebagai pusatnya. Sedangkan komposisi di dalam menempatkan Tugu (Tugu Pal Putih) - Panggung Krapyak sebagai elemen utama inti ruang. Komposisi ini menempatkan Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak dalam satu poros.
Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 13.000 meter persegi. Areal tersebut dibatasi oleh pagar tembok keliling. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan setelah 16 tahun Keraton Yogyakarta berdiri. Pendirian masjid itu sendiri atas prakarsa dari Kiai Pengulu Faqih Ibrahim Dipaningrat yang pelaksanaannya ditangani oleh Tumenggung Wiryakusuma, seorang arsitek keraton. Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pembangunan bangunan utama masjid. Tahap kedua adalah pembangunan serambi masjid. Setelah itu dilakukan penambahan-penambahan bangunan lainnya.
Bangunan Masjid Agung terdiri dari beberapa ruang, yaitu halaman masjid, serambi masjid, dan ruang utama masjid. Halaman masjid terdiri atas halaman depan dan halaman belakang. Halaman masjid merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian luar bangunan utama dan serambi masjid. Halaman ini dibatasi oleh tembok keliling. Sedang halaman belakang masjid merupakan makam Nyi Achmad Dahlan dan beberapa makam lainnya.
Ada lima buah pintu yang dapat digunakan untuk memasuki halaman masjid. Dua buah pintu terletak di sisi utara dan selatan. Sedangkan pada sisi timur terdapat sebuah pintu yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama. Bentuk pintu gerbang yang sekrang ini adalah semar tinandu dengan atap limasan. Pada kedua sisi gapura ini terdapat dua bangunan yang disebut bangsal prajurit. Pintu gerbang dihubungkan dengan sebuah jalan yang membelah halaman depan menjadi dua bagian. Jalan ini diapit dua buah bangunan yang dinamakan pagongan.
Bangunan serambi masjid dipisahkan dari halaman masjid. Bangunan pemisahan itu berupa pagar tembok keliling dengan lima buah pintu masuk. Pada sisi timur terdapat tiga buah pintu dan satu buah pada sisi utara serta selatan. Bangunan serambi ini juga dikelilingi dengan sebuah parit kecil (kolam) pada sisi utara, timur, dan selatan. Tempat/bangunan yang digunakan untuk berwudhu terdapat di sebelah utara dan selatan serambi.
Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi didirikan di atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid berbentuk limasan.
Pada sebelah barat serambi ini berdiri bangunan Masjid Agung yang merupakan ruang utama salat. Ruangan masjid berbentuk denah bujur sangkar. Bangunan ,asjid didirikan di atas batur setinggi 1,7 meter. Pada sisi utara masjid terdapat gedung pengajian, kamar mandi, dan WC untuk pria. Sedang yang diperuntukkan bagi wanita berada pada sisi selatan. Mihrab berada pada dinding sebelah barat. Pada dekat mihrab terdapat sebuah mimbar dan maksurah, masing-masing terletak di sebelah utara dan selatan mihrab. Atap tajug bertumpang tiga menutupi ruang utama Masjid Agung ini. Pada puncak atap terdapat mustaka. Ketiga atap masjid ini didukung oleh dinding tembok pada keempat sisi ruangan dan tiang berjumlah 36 buah. Tiang-tiang tersebut berpenampang bulat tanpa hiasan (polos). Ketiga puluh enam tiang tersebut terdiri atas empat buah saka guru, 12 saka rawa, dan 20 saka emper.
DAFTAR PUSTAKA

Hariyono, Paulus. 2008. Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Surabaya: Bumi Aksara
Anam, Sidik Jatmika dan Zahrul. 2010. Kauman: Muhammadiyah “Undercover”. Yogyakarta: Penerbit Gelanggang
Sarjomiharjo. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe “sejarah sosial 1880-1930”. jakarta: komunitas bambu


[1] sosiologi kota untuk arsitektur
[2] Kota Yogyakarta Tempo Doeloe “sejarah sosial 1880-1930”  sarjomiharjo, jakarta: komunitas bambu.