Rabu, 26 Juni 2013

Struktur Kota Tradisional



  KOTA TRADISIONAL YOGYAKARTA
LINGKUNGAN KERATON NGAYOGYAKARTA

1.      Sejarah Awal Berdirinya Kota Tradisional Yogyakarta
Zaman dahulu, masyarakat Jawa khususnya masyarakat desa menyebut kota dengan istilah dalam bahasa jawa dengan sebutan nagari yang artinya kota atau keraton, karena pada awalnya kota diidentikkan dengan keraton. Dalam bahasa Sangsekerta kota dapat diartikan sebagai benteng atau pertahanan. Dalam bahasa melayu, kota diartikan sebagai benteng yang dipertahankan atas desa sebagai satu kesatuan politik,sehingga ciri-ciri kota yang menonjol adalah peran politiknya.[1] salah satukonsep tentang kota yang tercermin dipulau jawa yang terkenal dengan konsep kota tradisional yang merupakan konsep lokal dalam perkembangan kota di Indonesia. Kota tradisional adalah kota yang merupakan pusat kekuasaan tradisional, pengelolaan kota masih berada di bawah penguasa bumiputera dan belum ada campur tangan dengan bangsa asing. Konsep kota tradisional dalam konteks sejarah kota di barat yang sejajar dengan konsep kota pra-industrial yaitu kota yang belum bersentuhan dengan industrialisasi. Ada kebiasaan pada zaman raja-raja, penduduk kota dan desa memberikan upeti kepada raja. Semakin banyak upeti semakin kuat financial kerajaan dan semakin banyak prasarana dibangun, demikian pula prajurit atau angkatan perangnya semakin kuat.
Salah satu ciri yang paling menonjol dikawasan kota tradisional, terutama Jawa adalah keberadaan keraton, Alun-alun, masjid, pasar dan tembok atau pagar keliling (benteng).dalam tatanan budaya, kota tradisional ditandai antara lain penggunaan teknologi yang masih sederhana, penggunaan teknologi ilmu pengetahuan yang terbatas, serta penggunaan sistem produksi yang masih didominasi oleh tenaga manusia dan tenaga hewan. Penggunaan ilmu pengetahuan yang terbatas ini menyebabkan proses pembangunan kota-kota tradisional memunculkan pemikiran-pemikiran yang tidak rasional dan tidak bisa diterima dengan alam pikir saat ini tentang alasan dibangunnya kota tersebut. Salah satu kota tradisional di Jawa yang dalam proses pendiriannya masih berbau mitos adalah proses pendirian kota Yogyakarta oleh pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwono I yang tidak jauh dari mitos dan hal ramal meramal. Yogyakarta sebenarnya sudah dikenal sebelum kota Yogyakarta didirikan dan dijadikan tempat berdirinya keraton. Wilayah ini dikenal dalam babad Giyanti yang mengisahkan bahwa Sunan Amangkurat telah mendirikan Dalem diwilayah itu, yang bernama Gerjiwati oleh Pakubuwono II yang kemudian dinamakan Ayodya. Menurut cerita nenek moyang seorang kyai bernama Manganjaya memiliki sebuah buku pedoman ramalan. Dari ramalan tersebut dia menyimpulkan bahwa tempat dalam hutan beringin akan menjadi kota. Sejak saat itu dia mengumpulkan batu-batu bagi istana yang akan  dibangun sebagai tanda bukti kepada raja. Namun terlepas dari ramalan tersebut kota Jogjakarta dibangun oleh mangku bumi diatas hutan beringan. Setelah perjanjian gianti ditanda tangani pada tanggal 13 februari 1755 yang menandai pembagian matara menjadi dua yaitu Yogjakarta dan surakarta yang kemudian dikawasan yogyakarta digunakan untuk membangun istana Raja serta rumah-rumah pejabat kerajaan yang kemudian dikenal dengan nama Ngayogyakarta hadinigrat dan terkenal dengan sebutan keraton Yogyakarta.
Sejak didirikan pada tahun 1756 kota Yogyakarta mengalami perkembangan. Kota ini telah menjadi tempat bergabai golongan masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya kota Yogyakarta dipengaruhi oleh situasi kolonial, bermula dari sebuah jalan raya maka berdirilah kantor-kantor pemerintahan asing dan benteng. Kemudian muncul pemukiman Eropa club-club dan lapangan pacuan kuda. Daerah sekitar kota menjadi usah orang Eropa dalam perkebunan, pertanian terutama industri tebu. Jalan kereta dan jembatan penghubunganya banyak didirikan. Para pengrajin bumi putera mendapat tempat dilingkunagn yang miskin, hal ini sejalan dengan pemerintahan asing yang merupakan bagian yang luas dalam kompleks politik, kolonial. Sehingga masa akhir abad ke-19 sampai awal abad ke 20  di Yogyakarta bertemu dua kekuatan besar yaitu kekuatan tradisional dan kolonial. Suatu proses yang menimbulkan pembaruan.[2]
2.      Struktur Kota Tradisional Yogyakarta
Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Jawa dengan tipologi kota tradisional, kota ini merupakan ibukota dari Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakanpecahan kerajaan Mataram akibat ditandanganinya Perjanjian Giyanti 1755. Pangeran Mangkubumi adalah tokoh yang berperan penting dalam pendirian kota Yogyakarta. Kota ini dibangun dengan diawali pembangunan benteng kraton dengan penhuni awal adalah Sultan (Raja/Pemimpin Kerajaan), para bangsawan yaitu para staff kerajaan dan abdi dalem yaitu para pegawai kerajaan yang menghuni kawasan dalam benteng. Adapun struktur yang terdapat di kota tradisional Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.      Benteng Keraton (Benteng Vreedeburg): Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengat lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta karena kantor residen letaknya berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg. Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilikan Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini adalah milik Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC pada periode 1788-1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda) dibawah Gubernur Van Den Burg sampai ke pemerintahan Gubernur Daendels. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasaan Gubernur Jenderal Raffles. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di bulan Maret 1942. Pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan persetujuan Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara dan pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangan, ini dibuka untuk umum pada tahun 1987.

2.      Di Luar benteng terdapat pasar tradisional Bringharjo yang letaknya berada disebelah Utara Benteng kompeni (Vreedeburg) dan satu kompleks dengan keraton. Pasar ini didrikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Nama pasar beringharjo ini diambil dari nama Hutan Beringin yang merupakan nama hutan cikal bakal berdirinya kota jogja. Adanya pasar ini merupakan simbol adanya aktivitas ekonomi dilingkungan keraton sebagai tempat distribusi barang dari desa ke kota serta sebagai tempat pemenuhan barang-barang kebutuhan sehari hari bagi masyarakat desa dan kota.

3.      Area Pertokoan: kawasan pertokoan ini terletak di jalan Jalan yang dikenal dengan jalan malioboro, disamping jalan tersebut juga terdapat pertokoan cina yang didirikan oleh pemerintah Belanda,sehingga belakang pertokoan tersebut juga berdiri kampung pecinan.
4.      Kawasan Keraton: Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. keberadaan keraton dalam strultur kota tradisional merupakan hal yang utama, keraton Yogyakarta yang menjadi salah satu icon Jawa merupakan pusat dari budaya jawa. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut.

5.      Alun-alun:  Salah satu ciri pusat kota maupun pusat pemerintahan, baik itu kerajaan maupun kabupaten ditandai dengan hamparan lapangan rumput yang cukup luas dan sepasang pohon beringin di tengahnya yang dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor kabupaten yang biasanya juga menjadi kediaman dinas bupati. Lapangan inilah yang dinamakan “Alun-alun”. Namun ada perbedaan antara alun-alun keraton dengan alun-alun kabupaten (kediaman Bupati)  Pada Keraton memiliki dua alun-alun, di depan dan di belakang istana. Sedangkan tempat tinggal resmi Bupati (Kabupaten) yang hanya mempunyai satu alun-alun di depan kabupaten.
Kota kerajaan Tradisional dan Yogyakarta mempunyai dua buah alun-alun, satu terletak di utara Keraton dan satu lagi terletak di selatan Keraton. Alun-alun Lor (utara) dikelilingi oleh bangunan di penjuru mata angin, yakni: Masjid Agung di sebelah Barat, bangunan keraton di sebelah Selatan, pasar di sebelah Utara. Hal yang menarik adalah keberadaan penjara pada sisi sebelah Timur. Konon letak penjara ini didasarkan pada pemikiran agar para terpidana segera menyadari kekeliruannya dan bertobat, karena dipenjara berseberangan dengan tempat ibadah.
Disisi lain alun-alun terdapat  jalan masuk terdapat di tengah-tengah membelah alun-alun. Kemudian pada sisi kanan dan kiri selalu ditanami pohon beringin yang berpagar, karena itu masyarakat (di Jawa) menyebutnya Ringin Kurung, dan biasanya dikeramatkan serta diberi nama Kyai Jayandaru (kemenangan) dan Kyai Dewandaru (keluhuran). Sedangkan sebagian masyarakat menyebutnya Ringin Kembar. Ringin Kembar mengandung makna atau pesan simbolik bahwa Raja atau Bupati bukan sekedar penguasa melainkan juga pengayom (pelindung) bagi rakyatnya.
Alun-alun Kidul (Selatan) Keraton biasanya menyatu berada di dalam benteng (tembok tinggi) sebagai salah satu sistem pertahanan tempo dulu, Pada Alun-alun Kidul biasanya diselenggarakan gladen, latihan perang bagi para prajurit kerajaan secara berkala. Pada saat tertentu gladen ini digelar menjadi tontonan masyarakat.
6.      Kampung kauman
Kauman adalah sebuah kampung yang terletak di KElurahan Ngupasan  yang terletak di kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. di selatan Malioboro dan di utara Kraton Nyayogyakarta. Sebelah utara kampung ini dibatasi Jalan K.H.A.Dahlan, sebelah selatan dibatasi Jalan Kauman, sebelah timur dengan batas Jalan Pekapalan dan Jalan Trikora, sementara di sebelah barat dibatasi Jalan Nyai Ahmad DAhlan  atau dulu dikenal dengan Jalan Gerjen.
Di kampung Kauman ini terletak MAsjid Gede yang terkenal. Lapangan masjid ini selalu digunakan untuk acara tahunan grebekan pada setiap penyelenggaraan Sekaten oleh pihak keraton  Yogyakarta. Dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem pametakan atau Penghulu kraton yaitu abdi dalem/pegawai kraton yang mengurusi bidang keagamaan Islam di lingkungan Kraton Ngayogyakarta hadiningrat
Kauman Yogyakarta dikenal sebagai basis dari organisasi Islam Muhammadiyah, karena di kampung inilah Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan. Selain K.H.Ahmad Dahlan, tokoh lain yang berasal dari kampung Kauman adalah Ki BAgus HAdikusuma. Konon, karena fanatisnya pada setiap penyelenggaraan pemilu PArtai Amanat NAsional selalu menang besar di sini.  Selain itu tempat ini juga merupakan Komunitas terbesar bagi keturunan Arab di DAerah IStimewa Yogyakarta.
 
7.      Masjid Agung
Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah bangunan masjid yang didirikan di pusat (ibukota) kerajaan. Bangunan ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Perencanaan ruang kota Yogyakarta konon didasarkan pada konsep taqwa. Oleh karenanya, komposisi ruang luarnya dibentuk dengan batas-batas berupa penempatan lima masjid kasultanan di empat buah mata angin dengan Masjid Agung sebagai pusatnya. Sedangkan komposisi di dalam menempatkan Tugu (Tugu Pal Putih) - Panggung Krapyak sebagai elemen utama inti ruang. Komposisi ini menempatkan Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak dalam satu poros.
Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 13.000 meter persegi. Areal tersebut dibatasi oleh pagar tembok keliling. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan setelah 16 tahun Keraton Yogyakarta berdiri. Pendirian masjid itu sendiri atas prakarsa dari Kiai Pengulu Faqih Ibrahim Dipaningrat yang pelaksanaannya ditangani oleh Tumenggung Wiryakusuma, seorang arsitek keraton. Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pembangunan bangunan utama masjid. Tahap kedua adalah pembangunan serambi masjid. Setelah itu dilakukan penambahan-penambahan bangunan lainnya.
Bangunan Masjid Agung terdiri dari beberapa ruang, yaitu halaman masjid, serambi masjid, dan ruang utama masjid. Halaman masjid terdiri atas halaman depan dan halaman belakang. Halaman masjid merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian luar bangunan utama dan serambi masjid. Halaman ini dibatasi oleh tembok keliling. Sedang halaman belakang masjid merupakan makam Nyi Achmad Dahlan dan beberapa makam lainnya.
Ada lima buah pintu yang dapat digunakan untuk memasuki halaman masjid. Dua buah pintu terletak di sisi utara dan selatan. Sedangkan pada sisi timur terdapat sebuah pintu yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama. Bentuk pintu gerbang yang sekrang ini adalah semar tinandu dengan atap limasan. Pada kedua sisi gapura ini terdapat dua bangunan yang disebut bangsal prajurit. Pintu gerbang dihubungkan dengan sebuah jalan yang membelah halaman depan menjadi dua bagian. Jalan ini diapit dua buah bangunan yang dinamakan pagongan.
Bangunan serambi masjid dipisahkan dari halaman masjid. Bangunan pemisahan itu berupa pagar tembok keliling dengan lima buah pintu masuk. Pada sisi timur terdapat tiga buah pintu dan satu buah pada sisi utara serta selatan. Bangunan serambi ini juga dikelilingi dengan sebuah parit kecil (kolam) pada sisi utara, timur, dan selatan. Tempat/bangunan yang digunakan untuk berwudhu terdapat di sebelah utara dan selatan serambi.
Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi didirikan di atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid berbentuk limasan.
Pada sebelah barat serambi ini berdiri bangunan Masjid Agung yang merupakan ruang utama salat. Ruangan masjid berbentuk denah bujur sangkar. Bangunan ,asjid didirikan di atas batur setinggi 1,7 meter. Pada sisi utara masjid terdapat gedung pengajian, kamar mandi, dan WC untuk pria. Sedang yang diperuntukkan bagi wanita berada pada sisi selatan. Mihrab berada pada dinding sebelah barat. Pada dekat mihrab terdapat sebuah mimbar dan maksurah, masing-masing terletak di sebelah utara dan selatan mihrab. Atap tajug bertumpang tiga menutupi ruang utama Masjid Agung ini. Pada puncak atap terdapat mustaka. Ketiga atap masjid ini didukung oleh dinding tembok pada keempat sisi ruangan dan tiang berjumlah 36 buah. Tiang-tiang tersebut berpenampang bulat tanpa hiasan (polos). Ketiga puluh enam tiang tersebut terdiri atas empat buah saka guru, 12 saka rawa, dan 20 saka emper.
DAFTAR PUSTAKA

Hariyono, Paulus. 2008. Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Surabaya: Bumi Aksara
Anam, Sidik Jatmika dan Zahrul. 2010. Kauman: Muhammadiyah “Undercover”. Yogyakarta: Penerbit Gelanggang
Sarjomiharjo. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe “sejarah sosial 1880-1930”. jakarta: komunitas bambu


[1] sosiologi kota untuk arsitektur
[2] Kota Yogyakarta Tempo Doeloe “sejarah sosial 1880-1930”  sarjomiharjo, jakarta: komunitas bambu.

Selasa, 25 Juni 2013

Sejarah Agraria dan Perkebuanan di JAwa Utara



Kuli-kuli Parit, Wanita Penyiangan dan Snijvolk
Pekerja-pekerja Indsutri Gula Jawa Utara Awal Abad ke-20

Studi Kasus di Pabrik Gula Pekalongan-Tegal
Indonesia dimasa kolonial yang merupakan basis perkebunan tebu banyak menyerap tenaga kerja siring dengan munculnya pabrik atau industri gula. Salah satu industri gula yang muncul di sepanjang pantai utara Jawa salah satunya adalah Industri gula Pekalongan-Tegal. Produksi gula diwilayah ini sebenarnya telah ada jauh sebelum diberlakukannya sistem tanam paksa, sebelum dikuasai oleh kolonial, industri gula ini berada dibawah pengusaha China yang menetap diwilayah tersebut. Perkembangan yang tidak teratur berkembang hingga tahun 1830-an.  Setelah 1830-an komoditi gula menjadi industri utama yang berorientasi ekspor. Bahkan di kerasidenan Tegal dan Pekalongan muncul 12 pabrik gula skala besar yang dimiliki oleh Belanda. Perkembangan gula yang semakin meningkat tentu diikuti pula dengan permintaan lahan dan tenaga kerja.
Dalam proses pengolahan tebu hingga menjadi gula diperlukan dua jenis tenaga kerja dalam tahapan-tahapannya, diantaranya yaitu tenaga kerja yang fokus pada persiapan penanaman tebu hingga panen dan tenaga kerja pascapanen (Campaign). Kedua proses itu tentu memerlukan tenaga kerja kasar dalam pengerjaannya. makanisasi yang dilakukan hanya sebatas pengangkutan tebu dengan mesin uap sehingga tenaga manusia masih sangat dibutuhkan dalam proses pengolahannya.
Tenaga kerja masa itu juga dibagi bagi sesuai dengan tugasnya, persiapan penanaman adalah kuli parit (geulenkoelies) yang berjumlah ribuan ditugaskan di lapangan dalam penggalian saluran air, irigasi dan yang paling utama dilakukan adalah membuat lubang tanah yang dalam untuk menanam tebu. Wanita penyiang (Weedwoman) merupakan pekerjaan yang tak kalah pentingnya meskipun kebanyakan pekerjanya adalah wanita yang ditugaskan untuk pemeliharaan dan pemupukan yang umumnya anak anak dan wanita yang dipekerjakan digaji rendah. Tenaga kerja yang tergolong tenaga pasca panen (Campaign) dengan tugas mencangkil tebu yang telah masak kemudian mengangkutnya ke gerbong kereta dan dikirim ke pabrik untuk diproses. Tenaga kerja yang bertugas mengoperasikan pabrik itu sendiri dibagi waktu kerjanya siang dan malam. Bisa dibayangkan urbanisasi dikerasidenan saat itu juga tentu akan mengalami peningkatan yang tajam. Dalam kerja pasca panen ini juga memerlukan kerja tim yang biasa disebut Ploeg yang biasanya bekerja dibawah mandor.
Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam produksi gula saat itu tidak bisa terlepas dari sitem tanam paksa yang diterapkan kolonial. Penduduk pribumi harus menyerahkan tanah untuk ditanami tebu dan bekerja diperkebunan. Namun tidak semua petani yang menyewakan tanahnya bekerja di industri gula, banyak diantara mereka bekerja di daerah kota dengan pertimbangan gaji. Sehingga tenaga kerja juga banyak didatangkan dari luar daerah perbatasan pabrik. Tenaga kerja tidak dipekerjakan secara rutin setiap tahunnya karena umur tebu yang relatif panjang, sehingga menimbulkan tenaga musiman yang berpindah dari satu areal ke areal lainnya. Banyaknya industri gula yang berdiri saat itu juga bersaing dalam hal pemberian gaji yang tinggi.
Ciri ekonomi pribumi awal abad ke-20 di Pekalongan-Tegal dan persaingannya merupakan sebuah gambaran yang berasal dari sumber industri resmi pertanian lokal dan ekonomi lepas ladang yang dinilai kurang berhasil dalam dalam penggunaan tenaga kerja industri gula yang tersedia didaerah. Akibatnya saat industri gula memerlukan tenaga kerja sebenarnya merupakan saat kematian bagi pertanian penduduk asli.
Komposisi pekerja musiman yang bekerja diperkebunan Jawa tidak terlepas dari daerah daerah disekitanya, seperti yang terjadi di Jawa barat yang bergantung pada tenaga kerja musiman dari Cirebon, sedangkan di Jawa timur bergantung pada perpindahan pekerja musiman dari pulau Madura. Seperti yang terjadi di Pabrik gula Pekalongan-Tegal yang menggunakan orang orang luar dalam jumlah yang banyak telah menjadi ciri pada semua sektor produksi. Para pekerja tersebut datang sebagai migran temporer secara musiman yang biasanya berasal dari daerah timur cirebon.
            Penyediaan pekerja industri gula dilakukan oleh agen-agen pemerintah dimana sistem pembayaran dilakukan dengan sistem pembayaran uang muka, para perantara (mandor) dibayar tunai kemudian memberikan kepada pekerja dalam bentuk pembayaran dimuka. Namun sistem ini tidak disukai karena sering menimbulkan konflik dalam persaingan antar perusahaan gula. Namun kuli bebas yang bekerja tanpa dipertahankan oleh pebrik tidak pernah mendapatkan pembayaran dimuka. Tenaga-tenaga dibayar berdasarkan pekerjaan yang dilakukan.

Kamis, 15 November 2012

DOMINASI VOC DI INDONESIA


PERLAWANAN TERHADAP DOMINASI VOC

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Di Indonesia kaum penjajahan masuk pertama kali dalam wujud persekutuan dagang yang di bentuk tahun 1602 yang di sebut dengan VOC ( Vereenigde Oose Indische Compagnie ). VOC oleh belanda di beri hak eksklusif untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan di Negara jajahan. VOC datang ke Indonesia untuk melakukan pembelian rempah- rempah dengan mengatakan kontrak jual beli dengan penguasa peribumi, namun dalam perkembangan selanjutnya VOC bertujuan menguasai perdagangan di Indonesia dengan menyingkirkan pedagang – pedagang Asing lainnnya serta memaksa penguasa pribumi di Indonesia mengadakan perjanjian jual beli dengan mereka. Komoditi perdagangan yang menjadi prioritas utama adalah rempah- rempah. Untuk merebut monopoli perdagangan dari tangan raja atau pedagang pribumi. VOC juga membangun pangkalan angkatan laut, pusat gudang pedagangan dan pusat pemerintahan yang menjadi basis aksi diplomasi dan perdagangan.
Keberadaan VOC di Indonesia semakin memberatkan penduduk pribumi, lebih – lebih ketika di beri pihak istimewa yang tercantum dalam oktroi. Dengan adanya hak- hak istimewa itu VOC menjadi lembaga pemerintahan sekaligus perdangan yang otonom di wilayah jajahan. Perluasaan politik VOC ini menyebar hampir keseluruh wilayah Indonesia. VOC menanamkan pengaruh politiknya melalui perjanjian dengan penguasa- penguasa setempat. Penguasaan perdangan juga dilakukan dengan jalan penaklukan kekuasaan, namun VOC tidak mengambil alih kekuasaan para raja, tetapi VOC lebih menekankan tuntutan pengakuan kekuasaannya dalam bentuk penyerahan produk pertanian dari penduduk yang dikuasainya melalui raja atau kepala pribumi yang diakuinya. Bentuk penyerahan produksinya ditetapkan dalam dua sistem lerevansi dan sistem kontingensi.
Dengan adanya sistem penyerahan produksi ini semakin merugikan dan memberatkan rakyat pribumi. Barang-barang yang ditanam penduduk pribumi juga harus mengikuti pasaran Eropa, sehingga hal ini mendapatkan penolakan dari rakyat. Karena sistem ini memaksa penduduk untuk pembukaan, penggarapan, penanaman, dan pemanenan hasil. Kondisi yang seperti ini semakin menambah penderitaan dan menambah kemiskinan rakyat, sehingga rakyat melakukan perlawanan-perlawanan. Didalam makalah ini akan dibahas tentang perlawanan dari rakyat pribumi untuk melawan dominasi VOC.

1.2 Rumusan Masalah

v  Apakah yang menjadi latar belakang dari dominasi VOC terhadap bangsa Indonesia?

v  Apakah akibat yang ditimbulkan atas dominasi VOC tersebut?

v  Bagaimanakah Proses Perlawanan yang terjadi di Indonesia ?

1.3 Tujuan

v  Untuk mengetahui latar belakang dari dominasi VOC terhadap bangsa Indonesia.

v  Untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan atas dominasi VOC tersebut.

v  Untuk mengetahui Proses Perlawanan yang terjadi di Indonesia.

1.4 Manfaat
v  Dapat memperoleh informasi tentang pendudukan VOC di Indonesia serta kekuasaan Belanda yang berada di Indonesia.
v  Dapat memperoleh informasi tentang keadaan penduduk Indonesia serta perlawanan yang terjadi pada masyarakat Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Latar Belakang Dominasi VOC Terhadap Indonesia

Kekuasaan terhadap Kolonialisme atau Penjajahan VOC di Indonesia menimbulkan perlawanan dari penduduk Primubi.Dominasi itu berlangsung dalam eksploitasi atau pemerasan sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan Negara Penjajahan. Penduduk Pribumi diperas tenaga dan hasil produksinya untuk diserahkan kepada pihak penjajah yang kemudian oleh pihak penjajah dikirim ke Negara induknya untuk kemakmurannya sendiri,Di bidang politik pengaruh Belanda makin menjadi kuat berkat intervensi yang secara intensif dilakukan dalam persoalan-persoalan intern kekuasaan tradisional seperti misalnya dalam pergantian tahta,pengangkatan penjabat-penjabat birokrasi kerajaan maupun partisipasinya dalam menentukan kebijaksanaan politik kerajaan ,dengan demikian dalam bidang politik penguasa-penguasa tradisional makin tergantung pada kekuasaan asing sehingga kebebasan dalam menentukan soal-soal pemerintahan menipis.disamping itu anexsasi.wilayah yang dilakukan oleh penguasa asing sejak akhir abad 17 berakibat makin kurangnya penghasilan penguasa penguasa tradisional.

Dibidang sosial ekonomi kontak dengan barat berakibat pula makin lemahnya kedudukan daerah-daerah bumi putera.Kekuasaan mereka berangsur – angsur di kurangi dan lebih jauh di tempatkan di bahwa pengawasan pejabat- pejabat asing, tenaga kerja di libatkan dalam sistem ekspolitasi perekonomian. Keadaan ini menimbulkan kegonjangan dalam kehidupan kepa- kepala bumi putra. Khususnya di daerah jawa faktor- faktor produksi pertanian, baik yang mencakup tanah maupun tenaga kerja di atur menurut sistem kolonial. Para petani di bebani tugas mengolah sebagaian dari tanahnya untuk di tanami dengan tanam- tanaman ekspor dan di haruskan menyumbangkan yenaga kerja secara paksa pada penguasa kolonial.     

Di daerah – daerah lain di Indonesia dimana perdagangan laut merupakan sumber kehidupan pokok dari hidup, seperti misalnya daerah maluku, penguasa daerah pantai dan tindakan monopolitis dalam perdagangan yang di lakukan oleh Belanda, Penguasaan daerah produksi tanam ekspor, merupakan hambatan besar bagi penduduk setempat untuk mendapat penghasilan. Tindakan Asing tersebut menimbulkan rasa antipati dikalangan penduduk pribumi, yang pada saat semakin kritis mendorong terjadinya perlawanan.

Perdesakan pembuatan perjanjian oleh penguasa Belanda terhadap pribumi dengan mengabaikan nilai- nilai tradisi yang berlaku di daerah- daerah setempat, di samping tunututan untuk mengakui keberadaan Asing di tempat tersebut, di pandang pihak pribumi sebagai gangguan kedaulatan mereka. Kekecewaan tersebut menjurus kearah penentangan bersenjata di dalam keadaan kurang kuat penguasa pribumi terpaksa tunduk kepada kekuasaan Asing dan kekuasaan mereka ditempatkan di bawah kekuasaan kolonial. Usaha Belanda untuk memperluas wilayah kekuasaan selama ini mempunyai latar belakang politis untuk mencapai tujuan ekonomi. Peluasaan wilayah tersebut di harapkan dapat mempelancar pengungutan hasil produksi dan memperoleh tenaga kerja murah, di samping dapat mempelancar usahanya di bidang perdagangan.

Di bidang budaya pengaruh kehidupan barat dalam lingkungan kehidupan tradisional di kalangan penguasa pribumi timbul kekhawatiran bahwa pengaruh kehidupan Barat dapat merusak nilai- nilai kehidupan tradisional. Tantangan yang kuat terutama datang dari pemimpin agama yang memandang kehidupan di Barat bertentangan dengan norma- noram ajaran di Islam. Gejala kronis yang sering muncul dalam kalangan tradisional turut menambah kompleksnya keadaan. Gejala pertentangan intern antar bangsa terlihat dalam pertentangan antar Bangsawan di Sumatra Barat. Interfrensi berjalan sejajar dengan tujuan ekspansi wilayah yang di rencanakan oleh Belanda dalam kolonialismenya. Interfrensi aisng dengan pemihakan pada salah satu pihak yang sedang bertentangan dapat menimbulkan kekerassaan, kekecewaan dan reaksi pada pihak yang lain yang bahkan dapat memancing ke arah perlawanan.

Selama situasi kritis terlihat gejala pengelompokan pihak pro dan kontra kekuasaan asing baik dikalangan penguasa bangsawan maupun golongan dalam masyarakat. Di daerah kerajaan ajakan penentang terhadap kekuasaan asing dari para bangsawan ataupun ulama yang berpengaruh dengan mudah mendapat sambutan baik dari kelompok rakyat, yang karena tekanan-tekanan hidup yang mereka alami menunjukkan sikap anti pati terhadap kekuasaan asing. Dalam hubungan ini ikatan tradisional dalam bentuk ketaatan pada atasan merupakan faktor kuat terpenuhinya ajakan penentangan.

Perlawanan-perlawanan itu baik berupa perlawanan besar, berupa pemberontakan maupun hanya merupakan kericuhan-kericuhan. Perlawanan disementara daerah ini tidak berarti mengabaikan perlawanan-perlawanan lain yang pernah berkobar didaerah tertentu, seperti perlawanan yang cukup gigih di Banten, Perlawanan di Sumatera Selatan, Perlawanan di Tapanuli, Di Kalimantan Barat, Di Sulawesi Utara dan di daerah-daerah di Indonesia merupakan bentuk reaksi terhadap kekuasaan kolonial Belanda.


2.2 Akibat yang timbul atas Dominasi VOC di Indonesia
Masuknya kekuasaan bangsa asing di Indonesia telah menyebabkan perubahan tatanan politik, sosial, ekonomi dan budaya bagi bangsa indonesia di berbagai bidang kehidupan. diantaranya adalah:
·                          Politik
Baik Daendles maupun Rafles telah meletakkan pemerintahan modern. Para bupati dijadikan pegawai negeri dan digaji, padahal menurut adat, kedudukan bupati adalah turun temurundan mendapat upetidari rakyat. Bupati telah menjadi alat kekuasaan pemerintahan kolonial.
·                          Sosial Ekonomi
Eksploitasi yang dilakukan oleh bangsa barat membawa berbagai dampak bagi bangsa Indonesia. Munculnya monopoli dagang VOC menyebabkan mundurnya perdagangan nusantara di panggung perdagangan internasional. Peranan syahbandar digantikan oleh pejabat Belanda. Kebijakan tanam paksa sampai system ekonomi liberal menjadikan bangsa sebagai penghasil bahan mentah. Eksportirnya dilakukan oleh bangsa Belanda, pedagang perantara dipegang oleh orang timur asing terutama bangsa cina dan bangsa Indonesia hanya menjadi pengecer, sehingga tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman baru serta cara memeliharanya.
Dengan dilaksanakannya politik pintu terbuka, maka:
Ø       Pengusaha pribumi yang modalnya kecil kalah bersaing
Ø Perkebunan di Jawa berkembang sedangkan di Sumatera kesulitan tenaga kerja sehingga dilaksanakan program transmigrasi
Ø Untuk mendukung program penanaman modal barat di Indonesia pemerintah Belanda membangun: Irigasi, waduk, jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan. Untuk membangun tersebut digunakan tenagan secara paksa dengan sistem kerja rodi (kerja paksa)
Ø Dengan memperkenalkan sistem sewa tanah, terjadi pergeseran dari sistem ekonomi barang ke sistem ekonomi uang yang juga menyebar ke kalangan petani
Ø Daerah Indonesia terisolir dari laut sehingga kehidupan berkembang ke pedalaman.
Kemudian perdagangan di laut secara tak langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Dengan feodalisme rakyat pribumi dipaksa untuk tunduk atau patuh pada tuan tanah barat/timur asing. Sehingga kehidupan penduduk Indonesia mengalami kemerosotan.
·                          Budaya
Ø Tindakan pemerintah Belanda untuk menghapus kedudukan menurut adat penguasa pribumi dan menjadikan mereka pegawai pemerintah, meruntuhkan kewibawaan tradisional pribumi.
Ø Upacara dan tata cara yang berlaku di istana kerajaan juga disederhanakan, dengan demikian ikatan tradisi dalam kehidupan pribumi menjadi lemah.

2.3 Proses Perlawanan yang ditimbulkan atas Dominasi VOC di Indonesia
  1. Perlawanan di Aceh (1873-1904)
Perlawanan-perlawanan brsar yang terjadi di daerah daerah di Indonesia dalam abad 19, termasuk perlawanan pihak bumiputera di Aceh termasuk perlawanan paling berat bagi Belanda. Keadaan mulai bertambah setelah Belanda dan Inggris mencapai suatu perjanjian yang disebut traktat Sumatera dalam tahun 1871. Menurut perjanjian ini Belanda diberi keleluasaan untuk mengadakan perluasan diseluruh Sumatera. Termasuk ke daeran Kesultanan Aceh yang selama itu tidak boleh diganggu kedaulatannya. Oleh karena itu dilakukan usaha memperkuat diri dan mengadakan hubungan dengan negara-negara lain yang dapat membantunya. Dalam bulan Januari 1873, Sultan aceh telah mengirim seorang utusan, Habib Abdurrahman ke Turki untuk meminta bantuan apabila Belanda menggunakan kekerasan dan beruasa menundukkan Aceh. Ketika sebuah kapal perang Belanda yang mengantar pulang utusan-utusan Aceh, setelah bertemu dengan residen Belanda di Riau, singgah di bandar Singapura. Kesempatan ini digunakan oleh utusan utusan untuk mengadakan persekutuan dengan konsul Italia dan konsul Amerika Serikat di Singapura. Yang berperan diantara utusan utusan aceh adalah Tibang Muhammad.
            Bagi Belanda tindakan aceh tersebut sangat mengkhawatirkan, karena Belanda tidak menginginkan adanya negara asing lain turut campur tangan. Bantuan militer Amerika serikat pada Aceh yang menurut desas-desus akan datang pada permulaan bulan Maret 1873 menggelisahkan Belanda, akibatnya komisaris pemerintah hindia Belanda F.Nnieuwenhuyzen menyampaikan surat kepada sultan Aceh, berisi permitaan Belanda untuk menjernihkan suasana. Namun surat ini tidak memperoleh jawaban seperti yang diharapkan oleh Belanda. Surat kedua yang disampaikan oleh Belanda pada tanggal 24 Maretmangalami nasib serupa. Belanda mulai memamerkan kekuatannya dengan melepaskan tembakan meriam duabelas kali yang ditujukan ke arah benteng Aceh yang berada di dekat pantai. Belandamengirim Mayor Jendral J.H.R Kohler, kontak senjata terjadi antara pasuka Aceh dengan Belanda yang mendarat disebelah baratdaya kota pantai cermin. Tembakan meriam dari kapal belanda menyebabkan pasukan aceh mengundurkan diri, sehingga benteng aceh dapat diduduki oleh Belanda. Masjid raya yang mejadi sarana pertama penyerangan Belanda dipertahankan dengan gigih oleh tentara Aceh.
Pertahanan lascar aceh di masjid raya cukup kuat, Belanda mengerahkan induk pasukannya untuk mengadakan pengepungan terhadap Masjid Raya, dan tentara aceh yang berada di masjid mengadakan perlawanan. Panglima Belanda kohler memerintahkan untuk menembakkan peluru api kea rah masjid. Lascar aceh itu terbakar dan terpaksa lascar aceh mengundurkan diri. Sehingga masjid dapat diduduki oleh Belanda pada tanggal 14 April 1873. Dengan direbutnya masjid raya kekuatan pasukan aceh dipusatkan untuk mempertahankan Istana Sultan Mahmudsyah. Usaha pasukan Belanda untuk mendekati istana pada tanggal 16 april 1873 ditahan oleh tentara aceh. Sehingga terjadi pertempuran sengit. Karena kekuatan aceh tidak dapat ditembus, maka belanda terpaksa mundur lagi ke masjid. Dalam pertempuran ini belanda menderita kerugian perwira dan 116 serdadu tewas.
Selama perang berlangsung perdagangan laut aceh terhambat, karena kapal kapal perang Belandamengadakan blokade untuk menghalang-halangi hubungan dagang dengan luar. Kematian jendrah kohler merupakan bukti bagi pemerintah hindia Belanda di Batavia bahwa perlawanan rakyat aceh tidak dapat dianggap ringan. Setelah kegagalannya untuk menundukkan aceh. Pemerintah Hindia belanda merencanakan untuk mengirim ekspedisi ke dua ke Aceh. Pada tanggal 6 november 1873. Jendral J.van sweeten diangkat menjadi pemimpin pasukan ekspedisikedua yang akan membawa pasukan yang lebih besar berkekuatan sekitar 8000 orang.
Pendaratan terjadi tanggal 9 desember 1973 di Kuala Lue.di gigieng pasukan Belanda telah di sambut oleh tembakan serangan dari tentara aceh dan pertempuran sengit terjadi. Tembakan-tembakan meriam Belanda dari kapal perang mengurangi daya tempur pasukan aceh, sehingga terpaksa mengundurkan diri. Pertempuran yang terjadi mulai tanggal 6 januari 1874 membuktikan usaha gigih dari pihak Aceh untuk menghindarkan kemungkinan didudukinya masjid raya seperti yang terjadipada penyerangan Ekspedisi Belanda pertama.
  1. Perlawanan di Kalimantan Selatan (1859 - 1905)
            Kontak pertama-tama antara kerajaan Banjar dan Belanda terjadi pada permulaan abad 17. Pedagang-pedagang Belanda yang terhimpun dalam VOC datang di Banjarmasin dengan tujuan untuk memperoleh hasil bumi yang dapat diperdagangkan seperti lada, rotan, damar maupun hasil tambang seperti emas dan intan. Pada masa pemerintahan Sultan Ramatullah pada dasawarsa ketiga abad 17. Belanda diizinkan mendirikan kantor dagang di Banjarmasin. Pemberian izin ini tidak lepas dari siasat Sultan Banjar untuk memperoleh sekutu guna mencegah ekspedisi kekuasaan raja Mataram Sultan Agung.
Pada sekitar abad 18 Belanda melakukan kegiatan lagi di Banjarmasin. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh rakyat Banjar terhadap kantor dagang ataupun kapal-kapal Inggris membuktikan bahwa kegiatan pedagang asing disitu bertentangan dengan kepentingan rakyat banjar. Pada taraf ini Belanda berhasil mendekati Sultan Tahlili’llah sehingga tercapailah suatu perjanjian pada tahun 1734, yang berisi pemberian fasilitas perdagangan pada pedagang Belanda.
Pertentangan intern antar-bangsawan yang sering terjadi member kesempatan pada Belanda untuk melakukan intervensi dalam urusan intern kerajaan. Kesulitan yang dihadapi oleh Sultan Tahmidillah II dalam hubungan dengan perlawanan Pangeran Amir telah mendorongnya untuk meminta bantuan pada Residen Belanda Walbeek. Disini mulai tampak bahwa usaha Belanda tidak lagi hanya sekedar untuk memperoleh fasilitas dalam perdagangan, tetapi telah menjurus kea rah perluasan wilayah kekuasaan.
Pemerintah Belanda di Batavia berusaha untuk mencampuri kericuhan dalam kerajaan Banjarmasin. Kolonel Andresen dikirim ke Banjarmasin untuk mengetahui dari dekat sebab-sebab kericuhan itu, Andresen berkesimpulah bahwa Pangeran Tamjidillah yang tidak disenangi rakyat adalah sumber dari kericuhan itu. Sultan Tamjidillah kemudian diturunkan dari takhta dan kekuasaan kerajaan Banjarmasin diambil alih oleh Belanda.
Pada tanggal 27 Septenber 1859 pertempuran juga terjadi di benteng Gunung Lawak yang dipertahankan oleh Kyai Demang Leman dengan kawan-kawan terhadap serangan Belanda. Dalam pertempuran ini kekuataan pasukan Demang Leman ternyata lebih kecil disbanding dengan kekuatan musuh, sehingga ia terpaksa mengundurkan diri dari benteng tersebut.
Sementara itu Pangeran Antasari makin giat melakukan perlawanan, terutama setelah mendengar kabar tentang pengasingan Pangeran Hidayat, saudra sepupunya ke Jawa. Rakyat menaruh kepercayaan pada Pangeran Antasari untuk meneruskan perlawanan. Pada tanggal 24 September 1864 bersama-sama dengan kawan seperjuangan ialah Pangeran Miradipa dengan Tumenggung Mancanegara mempertahankan benteng Tundakan. Pada tanggal 14 Maret 1862 rakyat mengangkat Pangeran Antasari sebagai Pemimpin Tertinggi Agama dengan Gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin. Sudah tentu gelar tersebut sangat besar pengaruhnya bagi kepemimpinan Pangeran Antasari. Ia amsih terus memimpin perlawanan terhadap Belanda sampai pada saat meninggalnya pada tanggal 11 Oktober 1862 di Hulu Teweh, tempat pertahannya yang cukup kuat.
Dengan meninggalnya Pangeran Antasari perlawanan rakyat masih terus berlangsung dan dipimpin oleh teman-teman seperjuangannya juga oleh putra-putranya. Belanda mengetahui bahwa kekuatan para pelawan hanya dapat dipatahkan apabila pemimpin mereka dapat ditangkap atau ditewaskan. Oleh karenanya dengan perbagai jalan Belanda berusaha untuk mendekati, menangkap atau membunuh pemimpin tersebut.
  1. Perang Diponegoro
Dalam bidang politik, Belanda ikut campur dalam pemerintahan kerajaan, pihak Belanda menempatkan kekuasaan militer kompeni dalam istana yang digunakan untuk mengawasi kekuasaan raja dan golongan dalam istana yang bersikap kontra terhadap Belanda. Makin sempitnya wilayah kerajaan dan berkurangnya kekuasaan raja membawa akibat makin sempitnya orientasi politik penguasa kerajaan. Makin meluasnya pengaruh Belanda dalam urusan kerajaan sebenarnya tidak terlepas dari faktor intern dalam kerajaan itu sendiri,yaitu adanya pertentangan antar bangsawan, kericuhan istana, perebutan takhta. Kedudukan Diponegoro semakin lemah ketika dia ditinggalkan oleh pembantunya, baik karena gugur maupun menyerah kepada Belanda. Di antara pembantunya yang menyerah terdapat Kyai Maja, Pangeran Notoprojo, Pangeran Mangkubumi, dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Meskipun demikian Diponegoro tetap tidak mau menyerah. Pengaruhnya di kalangan rakyat, termasuk di daerah yang sudah dikuasai pihak Belanda masih tetap besar. Untuk menghindari perang yang berkepanjangan, pihak Belanda menempuh cara diplomasi dengan menawarkan satu perundingan. Pihak Belanda mengirimkan dua orang utusan yang keduanya bekas kepercayaan Diponegoro. Oleh karena itu Diponegoro setuju untuk berunding walaupun dia mengetahui banyak pengikutnya yang tidak setuju. Sebagai langkah awal pada 16 Februari Diponegoro bertemu dengan Kolonel Cleerens yang mewakili de Kock di Remokawal. Di tempat itu disetujui bahwa pertemuan berikutnya dengan Jenderal de Kock akan diadakan di Magelang. Rombongan Diponegoro tiba di Magelang pada 25 Februari 1830, menjelang masuknya bulan suci Puasa (Ramadhan). Oleh karena itu Diponegoro menolak untuk mengadakan perundingan selama bulan puasa. Kondisi ini dilaporkan oleh de Kock 47 kepada Gubernur Jenderal dengan sengaja memanipulasi penolakan Diponegoro itu sebagai unsur penting untuk menangkap tokoh tersebut. Dengan cara itu dia mendapat ‘restu’ dari Gubernur Jenderal untuk menangkap Diponegoro. De Kock berhasil menipu Diponegoro. Di saat pembicaraan berlangsung, pihak Belanda melucuti para pengawal Diponegoro dan melarang Diponegoro meninggalkan tempat.
Diponegoro yang sadar dirinya ditipu sempat emosional dan akan membunuh de Kock di tempat perundingan. Meskipun awalnya ia menolak untuk menyerah dan menyatakan lebih baik mati, namun akhirnya ia pasrah terhadap takdir (angur sun sumendhetakdir). Kesadaran ini pula yang mendorongnya untuk meninggalkan tanah Jawa (Diponegoro dibuang ke Makassar dan meninggal dunia di kota itu pada 8 Januari 1855). Pertama, karena menurutnya tidak ada lagi yang memilikinya; dan kedua, untuk menghormati mereka yang gugur dalam peperangan karena membela dan melaksanakan perintahnya. Perang Diponegoro menyebabkan kerugian besar bagi Belanda. Secara keseluruhan, Belanda kehilangan 15.000 prajuritnya, termasuk 8.000 orang Eropa. Selain itu Belanda harus menanggung beban biaya yang amat besar. Dalam kondisi ekonomi yang morat-marit, pemerintah Hindia Belanda mau tidak mau harus menjalankan program penghematan. Untuk membiayai perang dengan sistem benteng itu, dengan cerdik Du Bus de Gisignies membebankannya kepada Sultan Yogyakarta (Hamangkubuwono II), termasuk tanah milik kesultanan di Jabarangkah secara penuh menjadi milik pemerintah Hindia.
  1. Perlawanan Kaum Padri ( 1821-1837 )
Penyebaran agama islam di Minangkabau terutama berkat kegiatan pusat pengajaran islam di daerah Ulakan, sebuah kota kecil di sebelah utara Padang.pusat pengajaran islam ini dipimpin oleh seorang ulama bernama Syeh Burhanuddin, murid Abdurrauf tokoh islam dari Singkel yang meninggal pada tahun 1704 M. Sikap keras dari kaum padri dalam memperjuangkan cita-citanya menimbulkan ketegangan di kalangan kaum adat. Kebiasaan lama yang telah berakar dalam masyarakat Minangkabau tidak mudah untuk berubah dalam waktu singkat. Gangguan terhadap kebiasaan penduduk tersebut mudah menimbulkan reaksi. waktu Belanda menerima penyerahan kembali daerah Sumatra Barat dari Inggris, maka perlawanan kaum Padri akhirnya juga diarahkan pada kekuasaan Belanda. Kaum Padri mulai melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda maupun pencegatan terhadap pasukan patroli mereka.
Kaum Padri mengambil kesempatan yang baik itu untuk memulai perlawanan lagi. Mereka mengadakan serangan terhadap daerah-daerah pengikut kaum adat seperti Suroaso dan Tanah Datar, sehingga dengan kekuatan yang ada pada Belanda harus menghadapinya. Dalam hubungan dengan perlawanan kaum Padri perlu diketahui bahwa diantara pemimpin-pemimpin mereka tidak selalu terdapat kesamaan pendapat. Sikap golongan Padri yang tidak menginginkan jalan kekerasan dalam menghadapi kaum adat ditentang oleh golongan Padri yang keras pendiriannya.
Kesulitan yang diderita oleh kaum Padri di Bonjol mulai ditutupnya jalan-jalan penghubung dengan daerah lain oleh pasukan Belanda. Pada tanggal 11 sampai 16 Juni 1835 sayap kanan pasukan Belanda telah berhasil menutup jalan yang menghubungkan benteng Bonjol dengan daerah sebelah barat. Dengan menyerahnya Tuanku Imam Bonjol tidak berarti bahwa perlawanan kaum Padri di daerah lainnya segera berakhir.
  1. Perlawanan di sulawesi selatan (sampai 1825)
Sejak belanda berhasil mendirikan kantor dagang di makassar pada tahun 1607, kontak mereka dengan penguasa tradisionil setempat dapat dilakukan lebih intensif kepentingan perdagangan belanda yang tercermin dalam kontrak-kontrak dagang dengan kerajaan makasar, bertugas untuk memperkecil kekuasaan dagang penguasa tradisional tersebut. Kontak bersenjata antara pasukan sultan Hasanudin dan pasukan speelman pada tahun 1666 tidak lain merupakan bukti sikap perlawanan penguasa tersebut kekuasaan asing. Bahwa dalam peperangan ini belanda juga menarik dari sementara penguasa bumiputera yang bersekutu dengan mereka, adalah cara yang biasa dilakukan oleh belanda dalam rangka menundukkan perlawanan-perlawanan penguasa bumiputera.
            Perjanjian bonggaya pada tahun 1667 memberikan kesempatan, kompeni belanda untuk berkuasa di daerah sulawesi  selatan. Meskipun telah dalam pengaruh kekuasaan belanda kerajaan makasar masih juga berusaha untuk mengadakan perlawanan terhadap belanda. Terbatasnya kekuatan belanda tidak memungkinkan untuk menguasai dan mengawasi secara langsung daerah-daerah yang telah di rebutnya . daerah-daerah yang telah dikalahkan terpaksa diserahkan kembali kepada raja setempat sebagai tanah pinjaman. Untuk menjaga kemungkinan timbulnya perlawanan lagi, belanda endirikan pos-pos penjagaan dan beneteng-benteng, seperti pos di tempat sebelah sungai pancaan dan benteng-benteng di mandalle dan segeri. Akibatnya pasukan belanda dapat dipukul mundur oleh pasukan suppa dan dalam pertempuran tersebut De Stuers telah kehilangan 22 orang tewas. Dalam hubungan ini pimpinan pusat peemrintahan kolonial belanda batavia berusaha untuk menhancurkan kekuataan kerajaan bone yang dipandangannya sebagai penghambat ekspensi di seulawesi selatan

  1. Perlawanan Di Bali
Kontak antara-antara kerajaan bali dengan Belanda telah terjadi pada abad 17. Pedagang-pedagang belanda pada waktu itu telah berusaha mengadakan perjanjian dengan raja-raja Bali, meskipun tidak berhasil. Motif belanda mendekati raja bali pada waktu itu menyangkut perdagangan. Usaha belanda mengadakan perjanjian dengan raja-raja bali tersebut berhasil pada 1841. Nampak jelas bahwa pemerintah VOC telah meluaskan wilayah daerah kekuasaannya. Dalam perjanjian tersebut antara lain berisi tentang : Bahwa raja-raja bali tidak akan menyerahkan kerajaannya kepada bangsa  Eropa lain, mengakui kerajaannya di bawah kekuasaan belanda, raja memberi izin pengibaran bendera belanda di daerahnya. Masalah yang menyulitkan antara Belanda dengan kerajaan Bali adalah berlakunya hukum tawan karang. Yaitu hak dari raja bali untuk merampas perahu yang terdampardi wilayah kerjaannya. Usaha belanda dalam tahun 1845 untuk menekan raja buleleng agar mengesahkan perjanjian pengapusan tawan karng telah di tolak. Meskipun telah di adakan perjanjian, ini tidak berarti kedua belah pihak sepenuhnya tunduk. Adanya kedua perjanjian tersebut oleh raja-raja bali ternyata jadikan sebagai siasat untuk mengulur waktu guna memperkuat diri.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Di Indonesia kaum penjajahan masuk pertama kali dalam wujud persekutuan dagang yang di bentuk tahun 1602 yang di sebut dengan VOC ( Vereenigde Oose Indische Compagnie ). Keberadaan VOC di Indonesia semakin memberatkan penduduk pribumi. Penguasaan perdangan dilakukan dengan jalan penaklukan kekuasaan, namun VOC tidak mengambil alih kekuasaan para raja, tetapi VOC lebih menekankan tuntutan pengakuan kekuasaannya dalam bentuk penyerahan produk pertanian dari penduduk yang dikuasainya melalui raja atau kepala pribumi yang diakuinya. Bentuk penyerahan produksinya ditetapkan dalam dua sistem lerevansi dan sistem kontingensi. Perlawanan yang terjadi di Indonesia diantaranya adalah Perlawanan Aceh, Perlawanan Rakyat Sulawesi Selatan, Perang Padri, Perlawanan Diponegoro, dan Perlawanan di Bali.

3.2 Saran
Makalah yang berjudul “ Perlawanan terhadap Dominasi VOC “, perlawanan tersebut masih terjadi hingga sekarang. Sebagai masyarakaat Indonesia, dimana negara ini masih berkembang sangat dibutuhkan integrasi yang kuat diantara masyarakat Indonesia. Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan, oleh karena itu kami sangat terbuka menerima kritik dan saran yang membangun guna penyusunan makalah selanjutnya agar lebih baik dan lebih sempurna.







DAFTAR PUSTAKA


Kartidirjo, Sartono. 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Depdikbud
Kartidirjo, Sartono. 1992. Pengentar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imporium. Jakarta: Gramedia  Pustaka Utama
Badrika, I wayan. 2006. Sejarah Untuk kelas XII. Jakarta: Erlangga